Kerinduan Tak Bertepi

Masa itu

#Cerpen

Kerinduan tak bertepi.

"Bagaimana Neng, lebaran ini apa bisa pulang?" Suara lembut Ibu terdengar di ujung telepon sana. Tersirat kerinduan yang sama kurasakan.

"Kayaknya enggak bisa Bu, Ara mengantikan Pak Alam, dia cuti seminggu. Libur kampus dua hari sebelum lebaran dan masuk lagi juga dua hari sesudahnya, Ara khawatir tidak dapat tiket dan pasti macet." Tugasku sebagai Asdos terkadang menyita waktu. Kalau tak menuruti bisa-bisa aku dilengserkan sebagai asistennya. Malah bisa lebih parah nilai dibuat jeblok.

"Ya sudah kalau enggak bisa, tak usah dipaksa. Terpenting kamu sehat, dan cepat selesaikan skripsi."

"Iya Bu, Insya Allah. Ibu dan Ayah juga jaga kesehatan ya. Ada waktu Ara pasti pulang."

Percakapan kami akhirnya diakhiri dengan rasa sesak di hati. Sudah hampir tiga tahun aku berpisah dengan kedua orang tua. Mereka memutuskan menghabiskan masa tua di kampung halaman Ayah di daerah Jawa Tengah. Awalnya berat, tetapi aku berusaha kuat jauh dari mereka.

***
Suasana kampus hari ini tidak terlalu ramai seperti biasanya mungkin efek Bulan Ramadan orang pun enggan beraktifitas, tetapi itu tidak berlaku bagiku. Beberapa makalah serta tesis mata kuliah Elektronika Digital berada dalam pelukanku. Langkah kaki tergesa-gesa menaiki tangga khawatir telat mengajar. 

"Lara!" Suara panggilan yang familiar menghentikan langkahku. Sesosok pria berbadan proporsional dengan sedikit bulu di atas bibir melambaikan tangan.

"Loh, Pak Alam ... katanya cuti?" tanyaku sedikit heran saat melihat Dosen tampan, tetapi sedikit galak berada di hadapanku.

"Kamu gimana sih, Ra? Bapak kan sudah kirim SMS ke kamu. Kasih tahu, bahwa tidak jadi cuti pulang ke Padang. Orang tua Bapak yang ke Jakarta, kamu boleh libur sekarang." Penjelasan Pak Alam membuatku melompat kecil. Aku tersipu dan meminta maaf. Lupa sedang berhadapan dengan siapa.

Aku bergegas balik ke rumah, sebelumnya mampir ke terminal dulu untuk memastikan masih ada tiket untuk mudik. Rasa senang membuncah di dada, apalagi tadi Pak Alam menyelipkan amplop lumayan tebal, sebagai tanda terimakasih membantu tugasnya. Alhamdulillah, tiket PP sudah dikantongi tinggal nanti ke mall beli sedikit oleh-oleh untuk kedua orangtuaku serta kakak dan adik.

Kini aku di dalam bus perjalanan menuju kampung halaman Ayah. Waktu menunjukkan pukul 12 siang, kemungkinan besar sampai sana sekitar jam dua pagi. Aku sengaja tidak mengabari, ingin menjadi kejutan buat keluargaku.

Perjalanan melelahkan mulai berakhir. Gerbang beton serta penampakan waduk besar menunjukkan aku sebentar lagi sampai tujuan. Suasana gelap ditambah baru beberapa kali mudik membuatku fokus memperhatikan jalan agar tidak terlewat. Benar saja, karena bus melaju kencang, rumahku terlewat begitu saja.

"Pak, pak berhenti!" teriakku kepada supir bus, yang akhirnya menjadi pusat perhatian para penumpang lainnya karena logat bahasaku tak seperti orang daerah.

"Loh, Mbak ... ini alas, hutan loh! Yakin turun di sini? Enggak di pool bus saja?" tanya kernet dan supir bersamaan.

"Yakin Pak, rumah saya sudah terlewat tadi."

Akhirnya, aku pun turun diiringi tatapan khawatir serta heran dari si kernet bus. Ketika bus melaju pergi, yang awalnya keadaan terang efek lampu bus berubah menjadi gelap, segelap-gelapnya. Mata minusku berusaha menyesuaikan. Aku mencari ponsel di dalam tas, tetapi tidak ketemu. Cahaya bulan juga tidak membantu, perlahan aku berjalan di tengah kegelapan.

Bruk! 

"Astagfirullah," pekikku saat tiba-tiba, sesosok tubuh menabrakku. Rasanya berat, tapi seperti angin.

"Arep neng ngendi Nduk?" Suara wanita bertanya. Sosoknya kini terlihat jelas, hanya dia. Tak ada pepohonan atau apapun tampak.

"Mau ke Desa Keren, Bu. Apa benar arahnya ke sana?" Aku menunjuk ke arah belakang si Ibu yang menegur. Wajahnya samar, meski agak terlihat darah mengalir dari kepalanya.

"Enjeh." Lalu dia lenyap meninggalkanku.

Aku mengatur napas sambil beristigfar berulang kali, kemudian melanjutkan perjalanan. Ternyata jauh juga jarak rumahku dengan tempat aku tadi berhenti. Kurang lebih satu kilo meter. Terlihat cahaya lampu rumah, pertanda memang mulai ada tanda kehidupan.

Letak rumahku tepat di pinggir jalan sehingga memudahkanku mengenalinya. Alhamdulillah sampai juga, aku menarik napas panjang dan mengetuk pintu.

"Sopo?" Suara Ibu terdengar. Aku mulai mengetuk lagi, "Sopo ya?" Hihihihi, aku tertawa dalam hati. Suara Ibu terkesan ada nada khawatir.

"Kulo ...." jawabku dengan nada suara dibesarkan, dan dibuat serak.

"Kulo sopo?" tanya Ibu kembali, tanpa membuka pintu.

"Ya Kulo loh." Aku menahan tawa, lalu terbukalah pintu diiringi teriakan, "Ya Allah, Neng!" Aku menghambur ke pelukan Ibu, mencium tangan serta pipinya. Mendengar keributan, Ayah serta Kakak dan Adik juga keluar, bergantian memeluk dan mencium.

"Kok, pulang enggak bilang-bilang?" tanya Ayah. Setelah aku masuk ke rumah, sambil menikmati santap sahur.

"Sengaja Yah, buat kejutan."

"Yah, benar-benar jadi kejutan Mbak," sahut adik.

"Memang tadi turun mana Neng? Enggak kedengaran suara bus berhenti?" tanya Ibu.

"Jauh Bu, ada kali hampir sekiloan jawabku."

"Enggak ada yang ganggu tadi?" tanya Ibu kembali.

"Enggak Bu, cuma ada yang negur sebentar kasih tahu arah."

"Alhamdulillah." Ibu tersenyum tipis, mengerti bahwa aku tidak mau membuat adikku takut.

"Tahu enggak Ra, kemarin itu di sana ada tabrakan. Lima orang meninggal katanya jadi setan, hiii ...." sela Kakak sambil menunjuk ke arah tempat aku berhenti tadi.

"Hiiii, takuuut." Adik langsung memeluk Ibu.

"Si Mas, bisanya nakutin adiknya aja nih." Ayah menegur dengan nada bercanda.

Senang akhirnya aku bisa berkumpul dengan keluarga di lebaran yang akhirnya kedepan tak mampu aku rasakan kebahagiaan utuh lagi. Yah, itu kejadian sekitar tahun 2000 saat masih ada Ayah dan Ibu. Sekarang telah berpulang ke Rahmatullah. Kini aku hanya bisa menikmati kerinduan tak bertepi.

End

 

????